Minggu, 08 Mei 2016
Rabu, 27 April 2016
RANCANGAN PENELITIAN PENGEMBANGAN R&D II
Rancangan
Penelitian Kuantitatif
Ketika
mempertimbangkan pendekatan kuantitatif untuk penelitian penelitian tindakan,
ada emapt kategori rancangan penelitian yaitu, rancangan deskriptif, rancangan
korelasional, perbandingan kelompok dan rancangan subjek tunggal.
a.
Rancangan
Deskriptif
Tujuan dari
penelitian deskriptif adalah menggambarkan dan membuat interpretasi tentang
status terkini dari indvidu – individu, objek, seting, kondisi, atau peristiwa.
Penelitian deskripsi hanya menguji fenomena sebagaimana fenomena itu eksis,
tidak ada upaya untuk secara artifisal memanipulasi kondisi atau situasi
apapun. Dua rancangan dalam rancangan deskriptif, yaitu:
1.
Penelitian observasional
Dalam penelitian
observasional focusnya ada pada satu aspek perilaku spesifik, seperti satu
variable khusus tunggal dimana observasi dilakukan. Kemudian observasi –
observasi tersebut dikuantifikasi. Yang berarti setiap contoh perilaku yang
ditargetkan itu dihitung dan dicatat untuk menentukan frekuensi terjadinya
secara keseluruhan. Rancangan ini sendiri hanya menuntut bahwa sebuah jadwal
spesifik dari observasi ditetapkan dan beberapa jenis lembaran perhitungan
dikembangkan.
2.
Penelitian Survei
Penelitian survey
mencakup perolehan informasi dari individu – individu yang menggambarkan satu
atau lebih kelompok dengan secara spesifik mengajukan kepada mereka pertanyaan
– pertanyaan dan kemudian memasukan jawaban mereka ke dalam table. Tujuan akhir
dari penelitian survey adalah belajar lebih banyak tentang status terkini dari
sebuah populasi besar yang masuk akal entah dengan mensurvie sebuah
sub-perangkat (sampel) dari populasi atau mensurviei keseluruhan populasi, jika
tidak terlalu besar.
Penting untuk
diingat bahwa penelitian survey hanya mengambil satu “potret” dari fenomena
dalam investigasi. Hasil dari penelitian ini, tidak dinyatakan sebagai suatu
yang konstan bagi kelompok yang disurvei, hasil pelnelitian sperti tindakan,
persepsi, opini, dah bahkan karakteristik dapat berubah sewaktu – waktu.
b.
Rancangan
Korelasional.
Dalam rancangan
korelasional, penelitian tindakan menguji apakah dan sejauh mana ada relasi
statistic antara dua variable atau lebih. Ini biasanya digunakan untuk mengukur
atau menggambarkan suatu kondisi yang ada atau sesuatu yang sudah terjadi
dimasa lampau. Rancangan dasar untuk penelitian korelasi mencakup satu kelompok
tungga orang yang diukur berdasarkan dua hal atau karaketeristik yang sudah
terjadi pada mereka.
Relasi antara
variable – cariable yang diukur secara statistic dengan mengkalkulasi sebuah
koefisien korelasi. Koefisien korelasi melaporkan dua aspek relasi antara
variable – variable yang ada yaitu arah relasi dan kekuatan relasi. Koefisien
korelasi yang umum diagunakan diantaranya koefisien
korelasi Pearson, yang disimbolkan denganr. Koefisien ini berada
pada skala yang berkisar dari -1.00 smapai +1.00. Arah yang ditunjukan oleh
skala ini bisa berupa skala positif dan skala yang negative.
Kekuatan relasi
diindikasikan oleh magnitude nilai numeric dari koefisien. Koefisien yang
terbesar mungin akan menjadi sama dengan 1.00, baik dalam arah yang positif dan
negatif. Koefisien korelasi yang sama dengan +100 menunjukan suatu korelasi
yang positif yang sempurna biasanya hal seperti ini jarang terjadi.
Penting bahwa
hasil studi korelasi tidak disalah interpretasikan. Penelitian korelasi hanya
memungkinkan peneliti tindakan untuk menyimpulkan bahwa ada suatu relasi dari
arah magnitude tertentu antara dua variable. Ada semacam salah konspesi yang
mengatakan bahwa penelitian korelasi dapat juga mengimplementasikan hubungan
sebab akibat antara dua variable, hal ini tidaklah benar.
Hanya karena dua
variable berhubungna, tidak berate bahwa variable satu menyebabkan variable
yang lain. Variable – variable tambahan mungkin saja menimbulkan pengaruh
kausual namun tidak dimasukan ke dalam studi yang sedang dijalankan. Walaupun
peneliti tidak dapat menggunakan hasil dati studi korelasi untuk menjelaskan
sebab akibat, tapi peneliti dapat menggunakannya untuk tujuan prediksi masa
depan.
c.
Rancangan
Perbandingan Kelompok
Rancangan
penelitian kelompok berusaha untuk melakuakn apa yang tidak dapat dilakukan
rancangan korelasi. Ide umum dibalik rancangan perbandingan kelompok adalah
bahwa dua atau lebih kelompok yang berbeda pada suatu karakteristik atau agak
terpaparkan pada kondisi yang berbeda, dibandingkan berdasarkan ukuran lazim
yang tunggal untuk melihat apakah karakteristik atau kondisi yang berbeda itu
mungkin menghasilkan prestasi yang berbeda.
Setiap peneliti
menginvestigasi sebab dan efek, mereka menguju sejauh mana satu variable (sebab)
mempengaruhi variable lain (akibat).Variable yang dianggab merupakan sebab dari
apapun, disebut variable independen. Variable yang diandaikan dipengaruhi oleh
variable lain disebut variable dependen.
Ketika mencoba
untuk menginvestigasi sebab dan akibat, sesungguhnya hanya ada satu metodologi
yang akan secara definitive menunjukan apakah satu variable menyebabkan
variable yang lain. Metodologi defenitif ini adalah penelitian eksperimental.
Rancangan eksperinental sejatinya menuntut bahwa sejumlah besar ketelitian dan
kontrol dipadukan ke dalam studi penelitian.
Terdapat tiga
subkelompok dari penelitian eksperimental, yaitu
1.
Rancangan Kausal Komparatif
Penelitian kausal
komparatif digunakan mengeksplorasi alasan dibalik perbedaan – perbedaan yang
ada diantara dua atau lebih kelompok.Rancangan kausal komparatif juga dikenal
sebagai rancangan ex post facto. Istilah ex post facto diterjemahan secara
harfiah sebagai “Setelah fakta”. Investigasi diawali dengan memperhatikan
berbedaan yang ada dalam sebuah kelompok orang.
Penelti tindakan
mencari sebab “setelah fakta” dengan kondisi–kondisi dan perbedaan–perbedaan
yang timbul, sudah terjadi. Jadi, kelompok–kelompok dibandingkan untuk menemukan
sebab bagi perbedaan–perbedaan dalam suatu ukuran atau skor.
Situasi paling
umum bagi implementasi rancangan kausal komparatif terjadi ketika sebab yang diandaikan
sebelumny, atau variable independen, sudah terjadi. Karena itu sudah terjadi,
tidak mungkin bagi peneliti untuk memanipulasi variable khusus tersebut.
2.
Rancangan Pre-eksperimental.
Rancangan
pre-ekspeimental disebut demikian karena merupakan rancangan pendahuluan.
Rancangan ini menggabungkan beberapa aspek studi eksperinental tetapi menyingkirkan
hal penting lainnya. Sebagai contoh, dalam rancangan preeksperimental
“variable” independen tidak berubah, umumnya disebabkan karena fakta bahwa
hanya ada satu kelompok.
Ketika menguji
baik rancangan eksperimental maupun kuasi eksperimental, catatlah representasi
grafik dari rancangan itu. Dalam diagram in, singkatan – singkatan dan symbol
berikut digunakan:
T =
Treatment condition (kondisi treatmen)
O =
Observasi atau jenis ukuran lain
EXP =
Experimental group (kelompok eksperimental)
CTL =
Control group (kelompok kontrol)
Kondisi treatment
menetapkan variable independen. Umumnya, beberapa peserta dipaparkan dengan
treatment, yang lainnya tidak. Level – level variable independen ini adalah
factor penentu bagi keanggotaan kelompok. variable indepanden terdiri dari
observasi dan ukuran lain.
Ada dua rancangan
eksperimental
·
One-shot case study (studi kasus sekali jepret).
One-shot case study adalah jenis rancangan ekspermental yang sangat primitive.
Dalam rancangan ini , beberapa jenis penanganan eksperimental diperkenalkan dan
seiring berjalannya waktu, suatu pengukuran atau observasi ditata untuk
menentukan efek dari treatmen.
|
kelompok
|
|
|
|
EXP
|
T
|
O
|
Catatan :
T :
Kondisi treatment
O :
Observasi atau jenis ukuran lain
EXP :
Kelompok eksperimental
·
Rancangan pretest-posttest satu kelompok. dalam
rancangan ini, kita melihat banyak perbaikan terhadap rancangan sebelumnya.
Walaupun masih belum ada kelompok lain yang diperbadingkan, sebuah pretest
sudah ditambahkan sebelumnya pada pengantar treatment.
|
GROUP
|
|
||
|
EXP
|
O
|
T
|
O
|
Catatan :
T :
Kondisi treatment
O :
Observasi atau jenis ukuran lain
EXP :
Kelompok eksperimental
3.
Rancangan Kuasieksperimental
Rancangan
kuasieksperimental paling mendekati eksperiment sejati, akan tetapi belum ada
tugas peserta yang acak bagi kelompok–kelompok. Pengertian tugas yang acak
memastikan bahwa kelompok peneliti bandingkan itu relatif serupa. Ini merupakan
alasan bahwa rancangan kuasieksperimental ini cukup memadai bagi penelitian
ruang kelas. Ada dua metode lain untuk memastikan bahwa kelompok yang
dibandingkan itu relatif serupa yaitu pretest dan pencocokan (maching).
ü
Pretest.
Bila menggunakan pretest untuk membangun
kelompok serupa, sebuah pretest pada variable yang ini peneliti periksa diatur
sebelum investigasi. Kelompok–kelompok kemudian secara statistic dibandingkan
berdasarkan skor pretest. Jika mereka serupa peneliti dapat meneruskan
penelitiannnya. Akan tetapi, suatu perbedaan signifikan antara kedua kelompok
mengindikasikan bahwa kedua kelompok tidak dapat dibandingkan. Dalam kasus ini
ada tiga opsi.
v
Carilah kelompok lain untuk dibadingkan.
v
Aturlah kembali kelompk yang ada sehingga
mnejadi lebih serupa.
v
Perhitunglah ketidaksamaan kelompok ketika
menggambrkan temuan –temuan dan menarik konklusi.
ü
Pencocokan atau maching.
Pencocokan atau machingadalah teknik lain yang dguakan untuk meciptakan kelompok
peserta serupa. Pretest diberikan kepada semua peserta, tetapi ia berfungsi
tujuan yang agak berbeda. Berdasarkan pada hasil pretest setiap peserta
dicocokan dengan peserta lain yang memiliki skot pretest yang relative sama.
Yakni satu kedalam kelompok eksperimental dan yang lain kedalam kelompok
kontrol. Hasil akhir adalah dua kelompok reltif sama pada variable minat.
Rancangan kuasieksperimental harus digunakan dengan hati–hati
dalam setting penelitian tindakan. Dalam situasi- situais ini apa yang peneliti
amati bukan lingkungan ruang kelas yang authentic, melainkan lingkungan yang
sudah diganti untuk mempu menguji satu variable khusus. Penelitian kausieksperiemental juga adalah
sebagai penelitian kuasi tindakan.
Penting untuk diingat bahwa penelitian tindakan tidak dibuat
untuk membuktikan atau tidak membuktikan hypothesis apapun. Juga tidak
dimaksudkan untuk memberikan hasil yang dapat digeneralisasikan pada populasi
yang lebih besar.Rancangan kuasieksperimental hanya digunakan untuk memberikan
satu deskripsi tentang apa yang terjadi yang ada pada setting atau situasi
khusus.
RANCANGAN PENELITIAN PENGEMBANGAN (R&D I)
Rancangan
Penelitian Kualitatif
Dalam
konsep penelitian kualitatif, sebenarnya cendrung menjadi kurang terstruktur,
bila dibandingkan studi kuantitatif. Studi – studi yang menggunakan pendekatan
kualitatif cendrung menjadi lebih sulit bagi kebanyakan orang, karena cendrung
menjadi studi yang luas, holistic dan mendalam yang dilaksanakan sepanjang satu
periode yang lama.
Karena
pertanyaan – pertanyaan penelitian kualitatif cendrung lebih berujung terbuka,
guru sebagai peneliti kadang kesulitan dalam mengidentifikasi metode yang pasti
yang akan mereka gunakan.
Leedy
dan Ormrod dalam Craig A. Mertler (2014) menyediakan satu tinjauan atas
beberapa pendekatan terhadap penelitian, yang mencakup studi kasus, studi
etnografis dan fenomenologis.
a. Studi Kasus
Dalamstudi kasus sebuah program atau event individual tertentu
dipelajari secara mendalam selama periode yang ditetapkan, biasanya
mengandalkan berbagai sumber data, yang mencakup observasi, wawancara, dan
tinjauan tentang dokumen yang ada.
Secara
formal studi kasus didefenisikan sebagai pengujian yang rinci
atas pengaturan (setting) tunggal,
subjek tunggal, atau event khusus. Studi
kasus dapat bervariasi dari segi kompleksitas, kedalaman, dan keluasa.
Berfokus pada subjek tunggal adalah cara terbaik untuk memulai bekerja dengan
rancangan studi kasus. Setelah studi kasus dengan subjek, setting, atau
peristiwa (event) tunggal, peneliti tindakan bisa maju terus ke studi kasus
multi-kasus atau multi subjek.
Studi
kasus, digambarkan seperti sebuah corong, awal studi berlokasi pada sisi corong
yang luas atau terbuka. Guru atau peneliti mencari orang atau tempat yang
berfungsi dengan baik sebagai sumber data untuk menginvenstigasi topic – topic
terpilih, setelah itu peneliti mengumpulkan data sambil berbarengan dan
mengeksplorasi, menganalisis, dan meninjau data – data itu dalam rangka
mengambil keputusan tentang langkah berikutnya dalam studi. Rancangan
penelitian dan prosedur pengumpulan data terus menerus dimodifikasi dan
dispesifikasi. Seiring berjalan nya waktu, guru peneliti mampu membuat
ketentuan spesifik tentang focus dari studi. Keputusan tersebut meliputi
setting, subjek, atau sumber data yang akan berfungsi sebagai focus studi yang
benar.
b. Studi Kasus Observasional
Studi
kasus observasional barangkali merupakan jenis studi kasus yang paling umum.
Focus dari studi kasus observasional adalah lokasi fisik khusus dalam organasi
seperti sebuah ruang kelas, ruang duduk guru, kantor, atau kafetaria, suatu
kelompok khusus orang atau aktifitas khusus disekolah.
Peneliti
harus menyadari bahwa persyaratan studi kasus observasional adalah menyeleksi
satu focus dalam setting sekolah. Melalui penggunaan data, yang dikumpulkan
terutama dalam bentuk observasi dan wawancara, guru peneliti harus
memperhitingkan relasi dari focus studi disekolah secara keseluruhan. Karena
alasan tersebut, lebih baik menyeleksi satu aspek yang dapat dilihat sebagai
unit yang benar – benar ada.
Peneliti
juga harus berhati – hati ketika menyeleksi dan mengidentifikasi kelompok orang
untuk studi kasus observasional. Semakin kecil jumlah peserta atau subjek dalam
kelompok yang dipelajari,maka semakin mungkin bagi peneliti untuk mengubah
perilaku itu hanya dengan kehadiran peneliti.
c. Studi Observasional
Studi
observasional sama dengan dengan studi kasus obeservasional, didalamnya
peneliti menjadi bagian integral dari seting studi. Tapi yang membedakannnya
adalah focus tidak diarahkan pada satu aspek organisasi sebuah sekolah,
melainkan fokusnya lebih luas.
Peserta studi
mungkin tidak akan terbuka kepada peneliti untuk berbagi perasaan persepsi atau
opini – opini yang jujur. Tindakan menjadi orang terpercaya dalam setting
sesungguhnya membuat peneliti menjadi partisipan dalam setting atau kelompok
tertentu hal ini disebut juga dengan “observasi partisipan”
Dengan berpartisipasinya
peneliti dalam sebuah kelomok atau setting tertentu akan membuat peneliti bisa
melihat langsung tentang pola – pola perilaku, mengalami hal yang tidak terduga
dan bisa mengembangkan kualitas kepercayaan yang lebih dalam memungkinkan untuk
memotivasi peserta didik. Observasi pasrtisipan adalah suatu yang umumnya
terjadi sepanjang pengumpulan data dalam studi observasional.
Dalam studi
observasional ada beberapa level partisipasi peneliti
|
Pengamat
|
|
Pengamat
sebagai peserta
sebagai
|
|
Peserta sebagai pengamat
|
|
Peserta penuh
|
|
Pengamat
|
|
Pengamat
sebagai peserta
sebagai
|
|
Peserta sebagai pengamat
|
Observasi
partisipan bisa sebagai sarana pengumpul data saja, walaupun ditambahkan dengan
wawancara individual atau kelompok kecil. Dalam peran peneliti sebagai
pengamat, peneliti berinteraksi sedikit saja atau sama sekali tidak beriteraksi
dengan peserta yang dipelajarinya. Sehingga peserta didik tidak mengetahui
bahwa mereka sedang diobservasi.
Pada level
pengamat sebagi peserta atau partisipan, peran guru peneliti pada level ini adalah
pertama – tama peneliti tetap sebagai seorang pengamat namun memiliki berapa
level interaksi dengan siswa. Pada umumnya peserta didik mengetahui mereka
diobseravasi sehingga mungkin ada beberapa komunikasi non verbal yang terjad
antara partisipan dan pengamat.
Pada level
partisipan sebagai pengamat, dalam hal ini peneliti mengambil jauh lebih banyak
peran aktif dengan konteks setting particular. Peneliti harus mengobservasi dan
mengambil catatan tentang apa yang diobservasi namun juga memiliki peluang
untuk bertinteraksi dengan peserta dalam studi. Pada saat peneliti berinteraksi
dengan dengan peserta didik, akan semakin besar peluang peneliti untuk
mengetahui masalah sebenarnya yang terjadi.
Pada level
terakhir yaitu peneliti se begai peserta penuh (fuul participant) peneliti berfungsi penuh sebagai anggota
“komunitas” dan jug sebagai peneliti. Dalam peran ini peneliti adalah bagian
pertama dan utama dari kelompok yang juga kebetulan mengumpulkan data tentang
kelompok.
Untuk bisa
menentukan dilevel mana seorang peneliti sangat tergantung pada sifat dari
pertanyaan – pertanyaan penelitian, onten dari studi dan sifat dari kelompok
yang akan dipelajari.
d.
Metode
Komparatif Konstan
Metode komparatif
konstan adalah sebuah rancangan penelitian bagi studi – studi yang mencakup
sumber multi-data, dimana analisis data
mulai awal dan hamper selesai pada akhir pengumpulan data. Pengumpulan data
umumnya mulai seelum topic atau focus spesifik tentang studi yang
diidentifikasi.langkah – langkah yang tercakup dalam mengimplemetasikan metode
komparatif yang konstan mencakup:
a) Mulailah
pengumpulan data.
b) Periksalah
data untuk mendapatkan isu – isu pokok, peritiwa yang berulang, atau aktivitas
– aktivitas yang mungkin menjadi focus dari studi dan basis bagi pengkategorian
data.
c) Teruslah
mengumpulkan data yang memberikan insiden – insiden kategori focus.
d) Mulailah
menulis kategori – kategori yang di eksplorasi, berusaha untuk menggambarkan
dan menjelaskan semua insiden yang termasuk dalam data sementara, pada saat
mencari insiden baru.
e) Teruslah
bekerja dengan data dan “model” yang muncul dalam rangka menemukan proses
social dan relasi dasr di kalangan dan di antara individu – individu dalam
kelompok yang dipelajari.
f) Terlibatlah
dalam meringkas, mengkodifikasi, dan menulis ketika analisis berfokus pada
kategori yang paling bermakna.
Penting dicatat bahwa walaupun proses ini sudah digambarkan sebagai seri
langakah yang tampak linear, semua langkah sesungguhnya terjadi secara simultan
dengan cara yang betul – betul terpadu. Pengumpulan data dan analisis terus
menggandakan kembali dan mengunjungi lebih banyak pengumpulan dan analisis
data. Bisa disimpulkan bahwa metode komparatif konstan melambangkan penelitian
tindakan berbasis ruang kelas dengan sifatnya yang jelas – jelas siklikal.





