Welcome to our website. Neque porro quisquam est qui dolorem ipsum dolor.

Lorem ipsum eu usu assum liberavisse, ut munere praesent complectitur mea. Sit an option maiorum principes. Ne per probo magna idque, est veniam exerci appareat no. Sit at amet propriae intellegebat, natum iusto forensibus duo ut. Pro hinc aperiri fabulas ut, probo tractatos euripidis an vis, ignota oblique.

Ad ius munere soluta deterruisset, quot veri id vim, te vel bonorum ornatus persequeris. Maecenas ornare tortor. Donec sed tellus eget sapien fringilla nonummy. Mauris a ante. Suspendisse quam sem, consequat at, commodo vitae, feugiat in, nunc. Morbi imperdiet augue quis tellus.

Rabu, 27 April 2016

RANCANGAN PENELITIAN PENGEMBANGAN R&D II

     Rancangan Penelitian Kuantitatif
Ketika mempertimbangkan pendekatan kuantitatif untuk penelitian penelitian tindakan, ada emapt kategori rancangan penelitian yaitu, rancangan deskriptif, rancangan korelasional, perbandingan kelompok dan rancangan subjek tunggal.
a.    Rancangan Deskriptif
Tujuan dari penelitian deskriptif adalah menggambarkan dan membuat interpretasi tentang status terkini dari indvidu – individu, objek, seting, kondisi, atau peristiwa. Penelitian deskripsi hanya menguji fenomena sebagaimana fenomena itu eksis, tidak ada upaya untuk secara artifisal memanipulasi kondisi atau situasi apapun. Dua rancangan dalam rancangan deskriptif, yaitu:
1.    Penelitian observasional
Dalam penelitian observasional focusnya ada pada satu aspek perilaku spesifik, seperti satu variable khusus tunggal dimana observasi dilakukan. Kemudian observasi – observasi tersebut dikuantifikasi. Yang berarti setiap contoh perilaku yang ditargetkan itu dihitung dan dicatat untuk menentukan frekuensi terjadinya secara keseluruhan. Rancangan ini sendiri hanya menuntut bahwa sebuah jadwal spesifik dari observasi ditetapkan dan beberapa jenis lembaran perhitungan dikembangkan.
2.    Penelitian Survei
Penelitian survey mencakup perolehan informasi dari individu – individu yang menggambarkan satu atau lebih kelompok dengan secara spesifik mengajukan kepada mereka pertanyaan – pertanyaan dan kemudian memasukan jawaban mereka ke dalam table. Tujuan akhir dari penelitian survey adalah belajar lebih banyak tentang status terkini dari sebuah populasi besar yang masuk akal entah dengan mensurvie sebuah sub-perangkat (sampel) dari populasi atau mensurviei keseluruhan populasi, jika tidak terlalu besar.
Penting untuk diingat bahwa penelitian survey hanya mengambil satu “potret” dari fenomena dalam investigasi. Hasil dari penelitian ini, tidak dinyatakan sebagai suatu yang konstan bagi kelompok yang disurvei, hasil pelnelitian sperti tindakan, persepsi, opini, dah bahkan karakteristik dapat berubah sewaktu – waktu.
b.   Rancangan Korelasional.
Dalam rancangan korelasional, penelitian tindakan menguji apakah dan sejauh mana ada relasi statistic antara dua variable atau lebih. Ini biasanya digunakan untuk mengukur atau menggambarkan suatu kondisi yang ada atau sesuatu yang sudah terjadi dimasa lampau. Rancangan dasar untuk penelitian korelasi mencakup satu kelompok tungga orang yang diukur berdasarkan dua hal atau karaketeristik yang sudah terjadi pada mereka.
Relasi antara variable – cariable yang diukur secara statistic dengan mengkalkulasi sebuah koefisien korelasi. Koefisien korelasi melaporkan dua aspek relasi antara variable – variable yang ada yaitu arah relasi dan kekuatan relasi. Koefisien korelasi yang umum diagunakan diantaranya koefisien korelasi Pearson, yang disimbolkan denganr. Koefisien ini berada pada skala yang berkisar dari -1.00 smapai +1.00. Arah yang ditunjukan oleh skala ini bisa berupa skala positif dan skala yang negative.
Kekuatan relasi diindikasikan oleh magnitude nilai numeric dari koefisien. Koefisien yang terbesar mungin akan menjadi sama dengan 1.00, baik dalam arah yang positif dan negatif. Koefisien korelasi yang sama dengan +100 menunjukan suatu korelasi yang positif yang sempurna biasanya hal seperti ini jarang terjadi.
Penting bahwa hasil studi korelasi tidak disalah interpretasikan. Penelitian korelasi hanya memungkinkan peneliti tindakan untuk menyimpulkan bahwa ada suatu relasi dari arah magnitude tertentu antara dua variable. Ada semacam salah konspesi yang mengatakan bahwa penelitian korelasi dapat juga mengimplementasikan hubungan sebab akibat antara dua variable, hal ini tidaklah benar.
Hanya karena dua variable berhubungna, tidak berate bahwa variable satu menyebabkan variable yang lain. Variable – variable tambahan mungkin saja menimbulkan pengaruh kausual namun tidak dimasukan ke dalam studi yang sedang dijalankan. Walaupun peneliti tidak dapat menggunakan hasil dati studi korelasi untuk menjelaskan sebab akibat, tapi peneliti dapat menggunakannya untuk tujuan prediksi masa depan.



c.    Rancangan Perbandingan Kelompok
Rancangan penelitian kelompok berusaha untuk melakuakn apa yang tidak dapat dilakukan rancangan korelasi. Ide umum dibalik rancangan perbandingan kelompok adalah bahwa dua atau lebih kelompok yang berbeda pada suatu karakteristik atau agak terpaparkan pada kondisi yang berbeda, dibandingkan berdasarkan ukuran lazim yang tunggal untuk melihat apakah karakteristik atau kondisi yang berbeda itu mungkin menghasilkan prestasi yang berbeda.
Setiap peneliti menginvestigasi sebab dan efek, mereka menguju sejauh mana satu variable (sebab) mempengaruhi variable lain (akibat).Variable yang dianggab merupakan sebab dari apapun, disebut variable independen. Variable yang diandaikan dipengaruhi oleh variable lain disebut variable dependen.
Ketika mencoba untuk menginvestigasi sebab dan akibat, sesungguhnya hanya ada satu metodologi yang akan secara definitive menunjukan apakah satu variable menyebabkan variable yang lain. Metodologi defenitif ini adalah penelitian eksperimental. Rancangan eksperinental sejatinya menuntut bahwa sejumlah besar ketelitian dan kontrol dipadukan ke dalam studi penelitian.
Terdapat tiga subkelompok dari penelitian eksperimental, yaitu
1.    Rancangan Kausal Komparatif
Penelitian kausal komparatif digunakan mengeksplorasi alasan dibalik perbedaan – perbedaan yang ada diantara dua atau lebih kelompok.Rancangan kausal komparatif juga dikenal sebagai rancangan ex post facto. Istilah ex post facto diterjemahan secara harfiah sebagai “Setelah fakta”. Investigasi diawali dengan memperhatikan berbedaan yang ada dalam sebuah kelompok orang.
Penelti tindakan mencari sebab “setelah fakta” dengan kondisi–kondisi dan perbedaan–perbedaan yang timbul, sudah terjadi. Jadi, kelompok–kelompok dibandingkan untuk menemukan sebab bagi perbedaan–perbedaan dalam suatu ukuran atau skor.
Situasi paling umum bagi implementasi rancangan kausal komparatif terjadi ketika sebab yang diandaikan sebelumny, atau variable independen, sudah terjadi. Karena itu sudah terjadi, tidak mungkin bagi peneliti untuk memanipulasi variable khusus tersebut.
2.    Rancangan Pre-eksperimental.
Rancangan pre-ekspeimental disebut demikian karena merupakan rancangan pendahuluan. Rancangan ini menggabungkan beberapa aspek studi eksperinental tetapi menyingkirkan hal penting lainnya. Sebagai contoh, dalam rancangan preeksperimental “variable” independen tidak berubah, umumnya disebabkan karena fakta bahwa hanya ada satu kelompok.
Ketika menguji baik rancangan eksperimental maupun kuasi eksperimental, catatlah representasi grafik dari rancangan itu. Dalam diagram in, singkatan – singkatan dan symbol berikut digunakan:
T          = Treatment condition (kondisi treatmen)
O         = Observasi atau jenis ukuran lain
EXP     = Experimental group (kelompok eksperimental)
CTL     = Control group (kelompok kontrol)

Kondisi treatment menetapkan variable independen. Umumnya, beberapa peserta dipaparkan dengan treatment, yang lainnya tidak. Level – level variable independen ini adalah factor penentu bagi keanggotaan kelompok. variable indepanden terdiri dari observasi dan ukuran lain.
Ada dua rancangan eksperimental
·      One-shot case study (studi kasus sekali jepret). One-shot case study adalah jenis rancangan ekspermental yang sangat primitive. Dalam rancangan ini , beberapa jenis penanganan eksperimental diperkenalkan dan seiring berjalannya waktu, suatu pengukuran atau observasi ditata untuk menentukan efek dari treatmen.
kelompok
Waktu
EXP
T
O
Catatan :
T      : Kondisi treatment
O     : Observasi atau jenis ukuran lain
EXP            : Kelompok eksperimental

·      Rancangan pretest-posttest satu kelompok. dalam rancangan ini, kita melihat banyak perbaikan terhadap rancangan sebelumnya. Walaupun masih belum ada kelompok lain yang diperbadingkan, sebuah pretest sudah ditambahkan sebelumnya pada pengantar treatment.
GROUP
Waktu
EXP
O
T
O
Catatan :
T      : Kondisi treatment
O     : Observasi atau jenis ukuran lain
EXP            : Kelompok eksperimental

3.    Rancangan Kuasieksperimental
Rancangan kuasieksperimental paling mendekati eksperiment sejati, akan tetapi belum ada tugas peserta yang acak bagi kelompok–kelompok. Pengertian tugas yang acak memastikan bahwa kelompok peneliti bandingkan itu relatif serupa. Ini merupakan alasan bahwa rancangan kuasieksperimental ini cukup memadai bagi penelitian ruang kelas. Ada dua metode lain untuk memastikan bahwa kelompok yang dibandingkan itu relatif serupa yaitu pretest dan pencocokan (maching).
ü Pretest.
Bila menggunakan pretest untuk membangun kelompok serupa, sebuah pretest pada variable yang ini peneliti periksa diatur sebelum investigasi. Kelompok–kelompok kemudian secara statistic dibandingkan berdasarkan skor pretest. Jika mereka serupa peneliti dapat meneruskan penelitiannnya. Akan tetapi, suatu perbedaan signifikan antara kedua kelompok mengindikasikan bahwa kedua kelompok tidak dapat dibandingkan. Dalam kasus ini ada tiga opsi.
v  Carilah kelompok lain untuk dibadingkan.
v  Aturlah kembali kelompk yang ada sehingga mnejadi lebih serupa.
v  Perhitunglah ketidaksamaan kelompok ketika menggambrkan temuan –temuan dan menarik konklusi.
ü Pencocokan atau maching.
Pencocokan atau machingadalah teknik lain yang dguakan untuk meciptakan kelompok peserta serupa. Pretest diberikan kepada semua peserta, tetapi ia berfungsi tujuan yang agak berbeda. Berdasarkan pada hasil pretest setiap peserta dicocokan dengan peserta lain yang memiliki skot pretest yang relative sama. Yakni satu kedalam kelompok eksperimental dan yang lain kedalam kelompok kontrol. Hasil akhir adalah dua kelompok reltif sama pada variable minat.
Rancangan kuasieksperimental harus digunakan dengan hati–hati dalam setting penelitian tindakan. Dalam situasi- situais ini apa yang peneliti amati bukan lingkungan ruang kelas yang authentic, melainkan lingkungan yang sudah diganti untuk mempu menguji satu variable khusus.  Penelitian kausieksperiemental juga adalah sebagai penelitian kuasi tindakan.

Penting untuk diingat bahwa penelitian tindakan tidak dibuat untuk membuktikan atau tidak membuktikan hypothesis apapun. Juga tidak dimaksudkan untuk memberikan hasil yang dapat digeneralisasikan pada populasi yang lebih besar.Rancangan kuasieksperimental hanya digunakan untuk memberikan satu deskripsi tentang apa yang terjadi yang ada pada setting atau situasi khusus.

RANCANGAN PENELITIAN PENGEMBANGAN (R&D I)

      Rancangan Penelitian Kualitatif
Dalam konsep penelitian kualitatif, sebenarnya cendrung menjadi kurang terstruktur, bila dibandingkan studi kuantitatif. Studi – studi yang menggunakan pendekatan kualitatif cendrung menjadi lebih sulit bagi kebanyakan orang, karena cendrung menjadi studi yang luas, holistic dan mendalam yang dilaksanakan sepanjang satu periode yang lama.
Karena pertanyaan – pertanyaan penelitian kualitatif cendrung lebih berujung terbuka, guru sebagai peneliti kadang kesulitan dalam mengidentifikasi metode yang pasti yang akan mereka gunakan.
Leedy dan Ormrod dalam Craig A. Mertler (2014) menyediakan satu tinjauan atas beberapa pendekatan terhadap penelitian, yang mencakup studi kasus, studi etnografis dan fenomenologis.
a.    Studi Kasus
Dalamstudi kasus  sebuah program atau event individual tertentu dipelajari secara mendalam selama periode yang ditetapkan, biasanya mengandalkan berbagai sumber data, yang mencakup observasi, wawancara, dan tinjauan tentang dokumen yang ada.
Secara formal studi kasus  didefenisikan sebagai pengujian yang rinci atas pengaturan (setting) tunggal, subjek tunggal, atau event khusus. Studi kasus dapat bervariasi dari segi kompleksitas, kedalaman, dan keluasa. Berfokus pada subjek tunggal adalah cara terbaik untuk memulai bekerja dengan rancangan studi kasus. Setelah studi kasus dengan subjek, setting, atau peristiwa (event) tunggal, peneliti tindakan bisa maju terus ke studi kasus multi-kasus atau multi subjek.
Studi kasus, digambarkan seperti sebuah corong, awal studi berlokasi pada sisi corong yang luas atau terbuka. Guru atau peneliti mencari orang atau tempat yang berfungsi dengan baik sebagai sumber data untuk menginvenstigasi topic – topic terpilih, setelah itu peneliti mengumpulkan data sambil berbarengan dan mengeksplorasi, menganalisis, dan meninjau data – data itu dalam rangka mengambil keputusan tentang langkah berikutnya dalam studi. Rancangan penelitian dan prosedur pengumpulan data terus menerus dimodifikasi dan dispesifikasi. Seiring berjalan nya waktu, guru peneliti mampu membuat ketentuan spesifik tentang focus dari studi. Keputusan tersebut meliputi setting, subjek, atau sumber data yang akan berfungsi sebagai focus studi yang benar.
b.   Studi Kasus Observasional
Studi kasus observasional barangkali merupakan jenis studi kasus yang paling umum. Focus dari studi kasus observasional adalah lokasi fisik khusus dalam organasi seperti sebuah ruang kelas, ruang duduk guru, kantor, atau kafetaria, suatu kelompok khusus orang atau aktifitas khusus disekolah.
Peneliti harus menyadari bahwa persyaratan studi kasus observasional adalah menyeleksi satu focus dalam setting sekolah. Melalui penggunaan data, yang dikumpulkan terutama dalam bentuk observasi dan wawancara, guru peneliti harus memperhitingkan relasi dari focus studi disekolah secara keseluruhan. Karena alasan tersebut, lebih baik menyeleksi satu aspek yang dapat dilihat sebagai unit yang benar – benar ada.
Peneliti juga harus berhati – hati ketika menyeleksi dan mengidentifikasi kelompok orang untuk studi kasus observasional. Semakin kecil jumlah peserta atau subjek dalam kelompok yang dipelajari,maka semakin mungkin bagi peneliti untuk mengubah perilaku itu hanya dengan kehadiran peneliti.
c.    Studi Observasional
Studi observasional sama dengan dengan studi kasus obeservasional, didalamnya peneliti menjadi bagian integral dari seting studi. Tapi yang membedakannnya adalah focus tidak diarahkan pada satu aspek organisasi sebuah sekolah, melainkan fokusnya lebih luas.
Peserta studi mungkin tidak akan terbuka kepada peneliti untuk berbagi perasaan persepsi atau opini – opini yang jujur. Tindakan menjadi orang terpercaya dalam setting sesungguhnya membuat peneliti menjadi partisipan dalam setting atau kelompok tertentu hal ini disebut juga dengan “observasi partisipan”
Dengan berpartisipasinya peneliti dalam sebuah kelomok atau setting tertentu akan membuat peneliti bisa melihat langsung tentang pola – pola perilaku, mengalami hal yang tidak terduga dan bisa mengembangkan kualitas kepercayaan yang lebih dalam memungkinkan untuk memotivasi peserta didik. Observasi pasrtisipan adalah suatu yang umumnya terjadi sepanjang pengumpulan data dalam studi observasional.
Dalam studi observasional ada beberapa level partisipasi peneliti
Pengamat


Pengamat
sebagai peserta
sebagai


Peserta sebagai pengamat


Peserta penuh


Pengamat


Pengamat
sebagai peserta
sebagai


Peserta sebagai pengamat


 






Observasi partisipan bisa sebagai sarana pengumpul data saja, walaupun ditambahkan dengan wawancara individual atau kelompok kecil. Dalam peran peneliti sebagai pengamat, peneliti berinteraksi sedikit saja atau sama sekali tidak beriteraksi dengan peserta yang dipelajarinya. Sehingga peserta didik tidak mengetahui bahwa mereka sedang diobservasi.
Pada level pengamat sebagi peserta atau partisipan, peran guru peneliti pada level ini adalah pertama – tama peneliti tetap sebagai seorang pengamat namun memiliki berapa level interaksi dengan siswa. Pada umumnya peserta didik mengetahui mereka diobseravasi sehingga mungkin ada beberapa komunikasi non verbal yang terjad antara partisipan dan pengamat.
Pada level partisipan sebagai pengamat, dalam hal ini peneliti mengambil jauh lebih banyak peran aktif dengan konteks setting particular. Peneliti harus mengobservasi dan mengambil catatan tentang apa yang diobservasi namun juga memiliki peluang untuk bertinteraksi dengan peserta dalam studi. Pada saat peneliti berinteraksi dengan dengan peserta didik, akan semakin besar peluang peneliti untuk mengetahui masalah sebenarnya yang terjadi.
Pada level terakhir yaitu peneliti se begai peserta penuh (fuul participant) peneliti berfungsi penuh sebagai anggota “komunitas” dan jug sebagai peneliti. Dalam peran ini peneliti adalah bagian pertama dan utama dari kelompok yang juga kebetulan mengumpulkan data tentang kelompok.
Untuk bisa menentukan dilevel mana seorang peneliti sangat tergantung pada sifat dari pertanyaan – pertanyaan penelitian, onten dari studi dan sifat dari kelompok yang akan dipelajari.
d.   Metode Komparatif Konstan
Metode komparatif konstan adalah sebuah rancangan penelitian bagi studi – studi yang mencakup sumber multi-data, dimana  analisis data mulai awal dan hamper selesai pada akhir pengumpulan data. Pengumpulan data umumnya mulai seelum topic atau focus spesifik tentang studi yang diidentifikasi.langkah – langkah yang tercakup dalam mengimplemetasikan metode komparatif yang konstan mencakup:
a)    Mulailah pengumpulan data.
b)   Periksalah data untuk mendapatkan isu – isu pokok, peritiwa yang berulang, atau aktivitas – aktivitas yang mungkin menjadi focus dari studi dan basis bagi pengkategorian data.
c)    Teruslah mengumpulkan data yang memberikan insiden – insiden kategori focus.
d)   Mulailah menulis kategori – kategori yang di eksplorasi, berusaha untuk menggambarkan dan menjelaskan semua insiden yang termasuk dalam data sementara, pada saat mencari insiden baru.
e)    Teruslah bekerja dengan data dan “model” yang muncul dalam rangka menemukan proses social dan relasi dasr di kalangan dan di antara individu – individu dalam kelompok yang dipelajari.
f)    Terlibatlah dalam meringkas, mengkodifikasi, dan menulis ketika analisis berfokus pada kategori yang paling bermakna.

Penting dicatat bahwa walaupun proses ini sudah digambarkan sebagai seri langakah yang tampak linear, semua langkah sesungguhnya terjadi secara simultan dengan cara yang betul – betul terpadu. Pengumpulan data dan analisis terus menggandakan kembali dan mengunjungi lebih banyak pengumpulan dan analisis data. Bisa disimpulkan bahwa metode komparatif konstan melambangkan penelitian tindakan berbasis ruang kelas dengan sifatnya yang jelas – jelas siklikal.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More